” Mengagumi Pesona Bastei dan Dresden yang Bersejarah ”

Sabtu, 22 Mei 2010 - 22:30 | Artikel, Kegiatan | No Comments

schloss Pilnitz

Ketua  DWP KBRI Berlin  ibu Atiek Pratomo di depan   schloss Pillnitz

Tradisi kegiatan  tahunan di awal  musim  semi  yang sangat dinanti oleh  segenap  anggota  DWP KBRI Berlin telah tiba. Wisata dan acara  arisan bulanan  yang  bertujuan untuk lebih mengeratkan tali silaturahmi sesama anggota dan juga   program menambah  wawasan  pengetahuan lewat  wisata  alam  dan sejarah kali ini memilih  keelokan  alam  provinsi  Saechsische Schweiz ( Saxon Switzerland , Germany ) ,tepatnya schloss  Pillnitz , gunung karang Bastei  dan  kota  bersejarah  Dresden .

Temperatur  Berlin di Sabtu,  15 Mei  lalu yang masih  cukup dingin 8° C , dan hujan  rintik-rintik pagi itu  tidak  mengurangi keceriaan ibu-ibu peserta wisata yang  berkumpul di  KBRI Berlin  pukul  7 pagi hari itu.  Bus double deck dengan kapasitas  60 orang itupun    penuh dengan  ibu-ibu yang terus ramai bercanda riang.  Separuh hari  ,  ibu-ibu  terlepas  dari  kegiatan  rutin sehari-hari. Jarak  tempuh selama  2,5 jam tak  begitu terasa karena gelak tawa, canda riang  ibu-ibu  peserta di dalam bus  .

Tak terasa,  rombongan telah sampai di  tempat  tujuan  wisata  pertama,  ke istana/ schloss  Pillnitz , yang terletak di sebelah  timur  arah  Dresden, atau sekitar 200 km dari Berlin  . Bangunan  di istana kecil ini  cukup  unik karena  gaya  arsitektur di atapnya  dipengaruhi oleh  gaya  arsitektur dari  Jepang. Istana ini dibangun oleh  bangsawan penguasa wilayah tersebut , John George IV dari  Saxony sebagai hadiah untuk istri tercintanya  Magdalena Sbylla dari Neidschutz. Mereka meninggal di tahun yang sama  1706, dan abang    dari John George , raja  Augustus II kemudian menghadiahi  istana ini kepada Anna  Constantia dari Brockdorff,  salah satu  wanita simpanannya, yang  melarikan diri ke Berlin ,  agar wanita itu mau kembali kepadanya . Selanjutnya  pada tahun  1720, dibangunlah  istana yang lebih  modern  tetapi dipengaruhi gaya arsitektur  China. Penguasa selanjutnya,  Frederick Augustus I dari  Saxony  membuat istana ini sebagai istana  musim panasnya . Di istana inilah kemudian terjadi  sebuah  peristiwa sejarah penting  Eropa, karena pada  tahun 1791  ditandatangani  Deklarasi  Pillnitz  antara  kaisar Leopold II dan raja  Frederick William II dari Prussia  yang didesak oleh  raja  Charles X dari  Inggris untuk mendeklarasikan  bahwa  raja Prancis waktu itu, Louis  XVI  tidak  boleh dipersejatai, sebagai  balasan  atas  terjadinya  kemajuan  akibat  Revolusi Prancis.

Di sepanjang jalan  setapak  menuju  ke istana ditumbuhi banyak pohon Camellia  yang kemungkinan dibawa  dari  Kyoto ,Jepang pada tahun 1776. Pohon Camellia ada yang  mencapai ketinggian  8,6 meter, dan  di musim semi dapat  berbunga lebih dari  35.000 pucuk  bunga.  Daunnya yang rimbun  membuat pengunjung nyaman  berjalan  di bawahnya . Sebuah  istana baru , dibangun kembali di samping  Pillnitz , dan dinamai Neue Palais ( Istana baru )   pada tahun  1819 ,  sekarang digunakan sebagai meseum untuk menyimpan benda-benda bersejarah kejayaan kerajaan  di Dresden masa lalu, dan  juga  kehidupan industrinya . Selain itu  wilayah  Pilnitz, terkenal dengan produksi  Winenya  .Sedikit disayangkan,  ketika rombongan DWP  datang,  museum dan  istananya sedang  ditutup untuk umum, jadi  rombongan  tak dapat melihat keindahan  interior dalam istana dan cukup puas hanya berfoto  di taman  .

Tujuan wisata berikutnya adalah  Bastei yang terletak  di Rathen,  Saechsische Schweiz, sebelah  tenggara kota Dresden, atau berjarak kurang lebih  45 km dari kota Dresden .  Bastei  adalah  gunung karang  yang  menjulang tinggi, dan lokasi paling indah untuk menikmati  sungai  Elbe sepanjang 194 meter  dari ketinggian  305 meter. Batuan karang  Bastei tersebut kononnya, telah terjadi  sejak  jutaan  tahun lampau. Bastei adalah  landmark di lokasi  taman  nasional di sana  , dan merupakan  arena  pendakian dan hiking  favorit   yang menyambung  sampai ke negara tetangga Chekoslowakia . Bastei sendiri telah menjadi lokasi kunjungan wisatawan sejak  200 tahun lampau.  Pada  tahun  1824 ,  beberapa buah jembatan  kayu dibangun untuk menyambungkan beberapa  batuan karangnya agar  wisatawan dapat  berjalan dari satu batu ke batu yang lain. Sebuah jembatan kayu yang besar   digantikan  dengan jembatan batu  pada tahun 1851 , hingga sekarang masih berdiri dengan kokoh.

die Burke

Lokasi  Bastei sendiri  cukup terpencil,  jika  tidak  melihat  gambar di  internet sebelumnya, mungkin ketika  menuruni  bus ,kita tidak akan percaya bahwa di  balik hutan di tanah yang sedikit datar tersebut , ternyata  menyembul  batu – batu  karang  yang menjulang tinggi  puluhan  meter dan berdiri kokoh menjulang ke langit , begitu  perkasa dan  sekaligus   menawan.  Berjalan di antara  jembatan  batu  yang menyambungkan  batu karang yang satu dengan yang lainnya  ,  menimbulkan sensasi yang sangat  menakjubkan,seperti membayangkan  berjalan di  atas awan sambil melihat indahnya panorama  lembah di bawahnya . Belum lagi,   kita dapat mengintip dari celah  bebatuan  karang,  sebuah desa jauh di  lembah ,  sedikit bertirai kabut ,seolah membuat kita berhayal dan menerka-nerka  apakah desa itu  menyembunyikan cerita misterius ?. Selain itu kita dapat menikmati  panorama alam  yang menakjubkan tersebut dari beberapa ujung lokasi yang strategis. Cuaca yang mendung , memang sedikit mengganggu pengambilan  foto  tapi sejauh mata memandang,  tak hentinya kalimat  pujian akan kebesaran pencipta  alam terucap . Di bawah sana,  sungai Elbe mengalir dengan tenang,  membelah hutan alam nan hijau royo-royo, hamparan  karpet  kuning  bunga  Raps yang kuning  turut menghiasi indahnya  lembah yang dibelah oleh aliran sungai Elbe .Keindahan alam itu dilengkapi oleh sebuah  kapal  pesiar kecil yang  tengah berlayar , dan   kicau burung menemani sepanjang  perjalanan kapal itu . Indahnya lukisan alam di  Bastei  membuat waktu yang disediakan  selama dua jam tak terasa  cepat berlalu. Banyak peserta wisata  yang menyatakan keinginannya untuk kembali berkunjung ke Bastei  ketika musim panas nanti.

karang yang kokoh edited

Rombonganpun melanjutkan wisatanya menuju  kota tua  Dresden , atau di bahasa Jerman  ,  ’altstadt ’. Jika di Bastei , rombongan  menikmati panorama  alam yang menakjubkan, di altstadt Dresden ,  walaupun hanya 1 jam ibu-ibu DWP dapat  menikmati keindahan Frauenkirsche ( Gereja Wanita)  ,  sebuah gereja bersejarah di  kota Dresden yang hancur oleh  bomb  pada Perang  Dunia ke 2, pada tanggal  13 Februari 1945  dan mulai direnovasi kembali  sejak tahun 1994. Kesempatan yang cukup singkat tersebut juga digunakan  beberapa  ibu-ibu untuk membeli  souvenir  sebagai  buah  tangan kecil  , dan  foto-foto  bersama  di sepanjang bangunan-bangunan tua bersejarah . Rombongan ibu-ibu DWP Berlin kembali ke Berlin dengan membawa kenangan  yang indah,berwisata alam dan sejarah, dan membuat  suasana lebih  akrab lagi, terbukti ketika di perjalanan pulang ,ibu-ibu masih tetap bersemangat  saling bertukar  cerita . (  Maria K.A.Tavipsyah –sie Pendidikan  DWP KBRI Berlin  ).

di bawah jembatan edited

No Comments yet »

Tinggalkan komentar

© 2009 Copyright by Dharma Wanita Persatuan KBRI Berlin